Berita Dunia Ineternasional – Rumor menyatakan bahwa militer israel sedang menyelidiki penembakan paramedis Palestina, Razan Najjar yang menyebabkan perempuan berusia 21 tahun itu meninggal dunia. Razan ditembak saat berada di antara pengunjuk rasa yang terluka di Gaza. Minggu (3/6/2018), Israel menyatakan akan menyelidiki kematian Razan. Mereka memastikan pasukannya bekerja “sesuai dengan prosedur standar operasi yang telah ditetapkan.”

Berita Dunia Internasional The Whashington menyatakan”IDF (Israel Defence Forces/Pasukan Pertahanan Israel) terus bekerja dan berusaha mengurangi jumlah korban di wilayah pagar keamanan Jalur Gaza,” kata militer dalam sebuah pernyataan, seperti yang dikutip The Washington Post, Sabtu (2/6/2018) waktu setempat.

Berita tersebut di lansir dari media internasional yang di terjemaahkan ke dalam laman bahasa Indonesia secara apik, padat dan aktual mengenai berita dunia internasional, oleh media digital online Indonesia, Mata mata politik. Berita selanjutnya menyatakan seorang saksi di lokasi aksi protes menyatakan Razan mendekati pagar pengamanan dengan tangan terangkat, untuk menunjukkan kepada tentara Israel bahwa ia bukan ancaman. Razan bermaksud mengevakuasi seorang pengunjuk rasa yang terluka dan berbaring di sisi pagar.

Tak lama setelah ia menolong pengunjuk rasa, ia ditembak tepat di dadanya hingga menembus ke belakang. Razan Najjar menjadi perempuan kedua yang tewas di perbatasan Gaza dan Israel sejak protes massal yang dimulai pada awal Maret lalu. Perempuan pertama yang tewas adalah seorang pengunjuk rasa yang masih remaja. Lebih dari 115 orang tewas dalam aksi tersebut. Razan membantu mengevakuasi dan mengobati warga yang terluka selama unjuk rasa.

Seorang relawan medis, Rida Najjar (29)—tak punya hubungan darah dengan Razan, mengatakan ia berdiri di samping Razan saat penembakan itu. “Ketika kami memasuki pagar untuk menolong pengunjuk rasa, Israel menembakkan gas air mata ke arah kami. Kemudian seorang penembak jarak jauh menembak satu kali dan langsung mengenai Razan.” “Awalnya Razan tak menyadari dia ditembak, namun kemudian ia mulai menangis dan berkata, ‘punggungku, punggungku’ dan ia jatuh ke tanah,” kata Rida, seperti dikutip Berita Dunia Internasional Aljazera.

Rida pun tak menyangka Razan ditembak, sebab mereka “terlihat jelas” mengenakan rompi putih paramedis dan membawa tas obat-obatan. “Seragam kami terlihat jelas, rompi kami dan tas obat-obatan, terlihat jelas. Tidak ada pengunjuk rasa di sekitar kami,” tambahnya. Untuk mengetahui seputar informasi mancanegara anda bisa mengunjungi laman matamatapolitik.com, informasi terpercaya terupdate dan menjadi referensi bagi wawasan kita tentang dunia.

Kategori: Bisnis